Kamis, 31 Maret 2016

Etika Dan Professionalisme Pada Aplikasi Uber Taxi

ETIKA DAN PROFESIAONALISME PADA APLIKASI UBER TAXI

Nama Anggota :
1. Berdiyanto Widiyastomo         (11112334)
2. Dwika Praja Wibawa               (12112319)
3. Fazal Alianzah Pane                 (12112836)
4. Luthfi Dimas Saputra               (14112284)
5. Nur Hudha Haksono                 (15112461)
6. Sukmawan                                  (17112189)

Uber Taxi
Uber adalah perusahaan rintisan dan perusahaan jaringan transportasi asal San Francisco, California, yang menciptakan aplikasi bergerak yang menghubungkan penumpang dengan sopir kendaraan sewaan serta layanan tumpangan. Perusahaan ini mengatur layanan penjemputan di berbagai kota di seluruh dunia. Mobil dapat dipesan dengan mengirim pesan teks atau memakai aplikasi bergerak khusus—pilihan terakhir juga bisa digunakan untuk melacak lokasi mobil pesanan pengguna.
Awalnya, para sopir Uber menggunakan mobil Lincoln Town CarCadillac EscaladeBMW 7 Series, dan Mercedes-Benz S550. Setelah 2012, Uber meluncurkan UberX, yaitu pengayaan jenis mobil agar terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Pada tahun 2012,Uber mengumumkan rencana perluasan operasinya yang mencakup tumpangan menggunakan taksi.
Bulan Juni 2014, Uber mengakhiri periode pendanaan yang menaikkan nilai perusahaan menjadi US$18,2 miliar. Meski Uber belum merilis nama-nama investornya, Fidelity Investments diduga-duga merupakan investor terbesarnya. Per Agustus 2014, perusahaan ini masih terlibat gugatan di beberapa wilayah hukum dengan tuduhan operasi taksi ilegal.
Menurut kamus redaksi Ridwansyah Corner, Uber adalah sebuah aplikasi yang memiliki fungsi sebagai alat bantu kita dalam memenuhi kebutuhan transportasi privat di dalam kota. Disini yang saya garis bawahi adalah aplikasi dan privat. Nah mengapa aplikasi? Karena memang this is just another simple and tremendous mobile application both works on Android and Apple devices. Kalo privat? Hmm, ini karena kita akan mendapatkan pelayanan privat ketika menggunakan Uber seperti sebuah eksekutif taksi.
Kalau dilihat secara definitif dan memperhatikan sejarahnya, Uber adalah sebuah perusahaan jaringan transportasi yang berpusat di California, Amerika sana. Merekalah yang menciptakan aplikasi dan dinamakan sesuai dengan nama perusahaannya, Uber. Beberapa menyebutnya sebagai Uber Taxi karena memang layanan dalam aplikasi ini mengkoneksikan antara pemilik mobil dan penggunanya yang fungsinya layaknya sebuah taksi
Dibalik kedatangan Uber ke Indonesia, saya melihat bahwa Uber bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan peranan perusahaan rental mobil dalam memberikan pelayanan moda transportasi terbaik kepada masyarakat, di tengah padatnya kesibukan dan kemacetan kota besar, khususnya kota Jakarta, Bandung, dan Bali.
Sampai saat ini di Jakarta, armada yang tergabung dalam Uber dikategorikan menjadi tiga jenis. Pertama UberX. Mobil yang masuk kategori ini biasanya Avanza, Xenia, dan Ertiga. Kemudian ada yang namanya UberBLACK. Kategori ini lebih premium dan tarifnya pun sedikit lebih mahal. Mobil yang masuk dalam kategori ini : Innova, Honda CR-V, Nissan X-Trail, Pajero Sport, Nissan Elgrand, Toyota Alphard, dan beberapa mobil mewah lainnya. Kategori ketiga yang eventnya sekarang masih berlangsung, yaitu UberSport. Isinya adalah mobil2 sport 2 pintu yang aduhai! Salah satunya Aston Martin yang kaya di film James Bond..
Nahhhh kita masuk ke intinya, disini saya akan mengungkapkan beberapa fakta informatif dan menarik tentang Uber dari hasil pengumpulan data yang saya lakukan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan literatur (persiapan tesis ceritanya):

ETIKA DAN PROFESIONALISME PADA PELAYANAN UBER TAXI

Murah 
Yap, tidak bisa dipungkiri memang tarif Uber itu lebih murah 30% dibandingkan dengan taksi konvensional (Bluebird, Express, Taxiku, dll). Sampai saat ini mulai dari buka pintu sampai tarif per kilometernya jika menggunakan UberX lebih murah 30%. Tarifnya pun sangat jelas terdiri dari rental cost, fuel cost and driver cost. Trip saya menggunakan UberX dari Jatiwaringin ke Ciledug hanya 83ribu rupiah. Selain itu dari Bandara ke Ciledug juga hanya 80ribu. Dan itu sudah termasuk tol. Lumayan juga kan ya?
Nyaman
Well untuk yang satu ini sebenernya hampir sama dengan taksi konvensional. Rasanya sama-sama nyaman. Perbedaan kenyamanan akan benar-benar terasa kalau kita naik UberBlack mobil yang premium. Yah perbandingannya seperti naik mobil mewah dan biasa kali ya.
Cashless
Yap ini fitur utama yang menjadi poin keunggulan Uber. Untuk mendaftar dan menggunakan aplikasi Uber syaratnya adalah kita harus memiliki dan mendaftarkan kartu kredit kita di aplikasi Uber. Semua transaksi biaya perjalanan dibayarkan melalui kartu kredit. Tidak ada transaksi yang terjadi secara langsung di dalam mobil. Dan juga kita tidak perlu mengeluarkan uang sepersen pun untuk membayar tol secara cash.
Tapi berdasarkan pengalaman saya kemarin menggunakan UberX dari Bandara Soekarno Hatta, saya dikenakan biaya tarif parkir Bandara sebesar 10 ribu rupiah ketika keluar dari area parkir. Kalo kata drivernya memang biaya ini ditanggung oleh penumpang karena dalam SOP mereka tidak ada untuk biaya parkir. Apakah memang ini prosedurnya? Hmm, saya kurang paham.
Kontroversi
Kehadiran Uber di kota besar baik di Indonesia maupun di belahan negara lain di luar sana banyak mengundang kontroversi dari berbagai pihak. Terutama terkait dengan soal perizinan transportasi dan sistem perpajakan perusahaan itu sendiri. Akan tetapi hal tersebut sudah diluruskan oleh Uber : Jakarta-Fact
Cemilan dan Minuman
Beberapa kali saya naik Uber memang selalu disediakan cemilan baik itu berbentuk sekedar permen sampai beberapa buah Bengbeng. Kalau perihal minuman biasanya tersedia aqua botol mulai dari kecil sampai ukuran tanggung. Tapi beberapa kali juga saya naik Uber tidak disediakan cemilan maupun minuman sedikitpun. Padahal itu naik UberBlack.
Disamping makanan dan cemilan ada beberapa armada yang menyediakan tissue dan tempat sampah. Yes, tissue itu hal simple tapi bikin nyaman. Contohnya kalo idung kita lagi gatel trus kalo ga ada tissue mau gimana coba? Hehe
Waktu Tunggu
Kita hidup di Jakarta kota termacet di dunia! Ketika kita pesan Uber, posisi armada yang akan menjemput kita akan terlihat di dalam peta. Akan tetapi karena kita ada di Jakarta yang super-duper-macet ini, terutama di jam kantor dan di tengah kota, walaupun posisi armada sudah di seberang jalan, bisa menyebabkan waktu tunggu yang cukup lama juga! Waktu tunggu macet itu tidak bisa diperhitungkan oleh aplikasi. Karena walaupun sudah tertulis 10 menit misalnya, bisa jadi 20 atau 30 menit lagi baru sampai di depan kita. Yah semua memang tergantung kondisi traffic. Ini adalah plus minus dibandingkan dengan menggunakan taksi konvensional yang biasanya selalu tersedia di area Mal atau tinggal melambaikan tangan di pinggir jalan.
Dynamic Pricing
Ini salah satu hal penting dan krusial yang harus diperhatikan. Mulai bulan Maret kemarin Uber menetapkan tarif dinamis. Bagaimana perhitungannya? Biasanya di jam padat dan area padat pula yang banyak memesan Uber sedangkan armada terbatas, maka tarif dinamis akan diberlakukan. Semakin banyak permintaan Uber di saat dan di lingkup tempat tersebut dan armada yang tersedia sedikit maka akan diberlakukan Surge Pricing. Istilah surge pricing ini sama dengan multiplier, yang artinya biaya perjalanan kita akan di kali berlipat sesusai dengan jumlah pengalinya! Dan ini akan diinformasikan ketika kita akan memesan Uber. Awalnya saya kira surge pricing ini hanya akan mengalikan biaya buka pintu saja. Ternyata tidak. Total biaya perjalanan kita akan dikali lipat.

Yang tadinya biaya perjalan hanya 30.500 rupiah, ternyata total tarif menjadi 112.500. Saran saya jika Dynamic Pricing sedang berlaku, pake taksi biasa ajah.
Penyelesaian Perjalanan Ini juga merupakan hal yang sangat-sangat penting. Walaupun kita percaya bahwa supir di Uber semuanya sudah kompeten, jujur dan integritas tinggi tapi yang namanya manusia yah ada aja kadang lupanya. Maksud dari penyelesaian perjalanan disini adalah setiap kali kita sudah sampai di tujuan, pastikan supir menyelesaikan trip di aplikasi Ubernya dengan men-slide tombol di layarnya. Dan kita sudah menerima total tarif di email. Karena biaya perjalanan akan langsung ter-charge ke kartu kredit secara otomatis saat supir menyelesaikan perjalanan (end trip) di aplikasinya. Ini sangat penting karena jika ketika sudah sampai tujuan dan kita langsung keluar dan supir pun lupa atau sengaja tidak mematikan trip, atau baru mematikan trip 2km dari tempat tujuan misalnya, jelas kita yang rugi! Saya pernah membaca kasus ini ketika sedang membaca timeline Uber di twitter.
Rating
 
Setiap kita selesai menggunakan layanan Uber, maka kita harus mengisi rating driver yang melayani kita. Begitu juga sebaliknya, driver akan mengisi rating  untuk kita juga. Apa guna rating? Yang jelas untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan baik untuk driver dan juga untuk penumpang.
 
Did you know? 
Konon katanya kalau kita sudah order Uber, dan sudah ada tulisan Your Uber is on the way, supir tidak diperbolehkan untuk mengcancel order yang diterima. Karena jika dilakukan maka rating driver akan otomatis turun dan jika dilakukan sampai 3x maka akun supir tersebut di Uber akan otomatis diblokir! Saya sudah mengalami di-cancel oleh supir yang menerima pesanan saya. Kalau kita yang cancel, akan dikenakan biaya 30ribu rupiah. Tapi kalo supir yang cancel, yah ga kena biaya apa-apa.
 
Free Rides


Uber menetapkan metode free rides agar semakin banyak orang yang menggunakan layanannya. Sama seperti dengan aplikasi lain semisal Go-Jek yang jika kita mendaftar untuk menggunakan aplikasi menggunakan invitation/promo code dari teman, maka kita akan mendapatkan starting voucher 75ribu. Begitu juga teman yang meng-invite/me-referral kan juga akan mendapatkan voucher 75ribu. Lumayan lho 75ribu itu bisa dari bandara ke pusat kota. Atau pusat kota ke Bekasi!